|
Amsterdam,- 24 oktober 2008 yang lalu PPNI Belanda kedatangan tamu 18 akademisi dan praktisi keperawatan dari seluruh Indonesia yang sedang short course clinical teaching di kota Groningen, sebuah kota bagian utara Belanda atas kerjasama Stuned dengan AIPNI (Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia).
Jujur saya juga ikut bangga sebagai perawat bahwa akhir-akhir ini semakin banyak rekan-rekan bisa belajar di negara lain, walaupun bisa dikatakan ketinggalan kereta dibandingkan dengan profesi-profesi lainnya. Namun harapannya bahwa rekan-rekan bisa menggunakan kereta cepat ala Jepang yang berjalan melayang 10 cm diatas rel dengan kecepatan 500 km/jam, sehingga gesekan panas juga tidak ada dengan rel. Kalau boleh saya mengibaratkan bahwa AIPNI adalah kereta api dan PPNI adalah rel-nya. Sebuah sinergi yang dahsyat bila berpadu.
Mereka yang datang ke Belanda ini adalah perwakilan yang berasal dari UIniversitas Indonesia, Jakarta Un Hasanudin Makassar, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Syah Kuala Aceh, Universitas Andalas Padang, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, RUSP Sanglah Denpasar, RSCM Jakarta, dan RS Dr.Sutomo Surabaya dibawah komando Pak Masfuri, dosen FIK UI. Dalam pertemuan yang penuh keakraban ini sempat mendsikusikan tentang situasi keperawatan terakhir di tanah air, juga disambung dengan sedikit gambaran keperawatan di belanda.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini kita mendengar berita perkembangan keperawatan yang luar biasa gencar ditanah air. Kesannya bagus, yaitu peningkatan kulitas SDM keperawatan. Bahkan tidak tanggung-tanggung spk dihapus dan D3 bahkan kabarnya juga akan menyusul untuk dieksekusi.
Saya juga baru mendengar bahwa disamping PPNI juga ada Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) yang fokus kepada pegembangan SDM.
Mungkin dibenak kita bertanya-tanya signal apa semua ini? Jujur saya melihat bahwa adanya tingkatan pendidikan dalam dunia keperawatan adalah sebuah kekuatan besar yang tidak dimiliki profesi lain. Salah besar kalau ners ingin memisahkan diri dengan komunitas keperawatan. Justru profesi ners adalah jembatan yang akan menghubungkan komunikasi antara keperawatan dengan profesi dokter. Ners-lah yang paling memahami rekan-rekan dari SPK dan D3 karena datang dari rumpun yang sama. Yang juga menjadi pertanyaan adalah pendidikan apa yang akan menggantikan SPK dan D3 ini? sudahkan rekan-rekan dari ppni dan aipni ikut memikirkan bentuk pendidikan lain sebagai pengganti SPK dan D3 ini? atau belum sempat terpikirkan? Atau cuek aja? karena anggapan bukan bagian dari profesi.
Akan sangat naif bila hal ini yang terjadi, bagimanapun SPK dan D3 adalah komponen penting dalam profesi keperawatan yang tidak dimiliki oleh profesi manapun. Saya berkesimpulan bila profesi ners tidak merangkul SPK atau D3, karir tertingginya akan sama seperti profesi lain. Namun apabila yang terjadi sebaliknya maka profesi ners akan lebih dahsyat eksistensinya. Bisa jadi dalam waktu 10-15 tahun yang akan datang hal ini akan terbukti dengan output pelayanan kesehatan yang lebih baik dengan kata lain kepuasan pasien meningkat dan juga respect yang ditunjukkan oleh profesi kesehatan lainnya kepada profesi ners.
Yang perlu juga mendapatkan perhatian besar adalah tidak cuma kemampuan akademis, namun lebih penting adalah semangat ketulusan untuk mengambil peran penting dalam perubahan. Bila yang dikejar hanya kemampuan akademis maka titik tertingginya yang akan dicapai sama dengan profesi-proefesi yang lain saat ini. Bila keperawatan ingin memberikan sumbangsihnya lebih besar dan ingin melewati titik kulminasi profesi saat ini adalah dengan penyatuan kembali kita sebagai perawat dengan kita sebagai orang timur yang berkebudayaan. Ruh ini telah hilang dalam bangsa kita ini secara umum. Kebudayaan adalah hasil olah budi pekerti yang luhur. Aplikasinya adalah ketika adanya saling menghargai, dan saling mengakui eksistensi yang lain. Kita harus mengakui eksistensi profesi lain, apalagi eksistensi anggota keluarga dalam rumah kita yaitu spk dan d3 adalah wajib hukumnya untuk dipangku.
Hal ini ini tentu membutuhkan kebijksanaan dan kearifan yang tinggi dari komunitas keperawatan baik dari ppni maupun dari aipni untuk bersama-sama melakukan sebuah perubahan besar dalam sistem kesehatan ditanah air. Saya berdoa kepada Tuhan semoga PPNI dan AIPNI benar akan menjadi seperti kereta api di Jepang yang melesat dengan kecepatan tinggi dan melayang diatas rel. Walau secara fisik tidak bersentuhan namun ada medan magnet yang dahsyat sehingga out putnya pun juga dahsyat.
Salam hangat,
Syafiih kamil |