| Malam seni nusantara |
|
|
|
| Senin, 22 Desember 2008 | |
|
Opini: oleh syafiih kamil Ahad 21 Desember 2008 berlangsung acara malam seni khusus untuk muda-mudi nusatara di amsterdam. Acara ini diprakarsai oleh yayasan nusantara amaterdam dimana ppni belanda turut mensukseskan program ini dengan menyumbangkan band karina, band vordel dan tarian batak yang di koordinir divisi orkes yang saat ini pj-nya adalah sdr eko nuradiyat, sdr.okta dkk. Masyarakat nusantara di belanda adalah termasuk 4 besar penduduk pendatang di belanda setelah maroko, turki, suriname-antillian. Namun banyak dirasakan bahwa peran dan funsi masyarakat ini masih onzichtbaar (tidak nampak) di negeri kincir angin ini, begitu yang dirasakan oleh rekan-rekan yayasan nusantara. Pernyataan ini menarik untuk dicermati sekaligus dianalisa. Apakah anda juga merasakan yang sama? Nusantara dengan kekayaan budaya dan alam serta populasi umat yang begitu dahsyat sampai saat ini memang belum berdaya. Dan tak bisa dipungkiri bahwa nusantara saat ini juga belum bisa memberi warna kepada penduduk bumi lainnya. Saya merasa terinspirasi dengan acara malam seni multikultural kemarin ini. Dalam acara ini kita diajak untuk mengenal kembali warisan kekayaan budaya. Lebih dalam lagi kita diajak untuk mengenali indentitas diri. Dan lebih menukik lagi kita diajak bahwa dengan segala macam perbedaan yang ada, sungguh kita bisa hidup bersama, bertetangga secara damai. Dalam acara tersebut sempat ada diskusi tentang identitas. who you are?. Kalau sedikit menilik tentang identitas nusantara, saya kira ini sesuatu yang menarik sekali untuk dikaji. Apakah kita cukup mengenal bahwa manusia nusantara hanya tercipta dari sperma (bilogis) saja, ataukah kita juga perlu mengenali dari aspek sosial budaya dan spritualnya juga? Sebagai seorang perawat saya kira harus mengenal secara holistic. Namun yang sering dilupakan adalah bahwa perawat juga manusia holistic. Saya kira sebelum beranjak mengenali pasien, terlebih dahulu kenali dirinya. Who you are? Sebagai orang timur cendrung tidak dominan terhadap buadaya lain, namun yang menjadi masalah adalah pasien-pasien kita di belanda cendrung memiliki budaya yang dominan. Dan saya kira ini tetap menjadi barier sampai saat ini. Perlu kearifan dan kebijaksanaan yang berlapis supaya identitas kita tidak terkikis habis. Tidak hanya generasi perawat namun semua generasi muda saat ini tak peduli dengan asal-usul mereka. Sehingga yang terjadi adalah kebingungan tak tahu identitasnya. Kita telah menjadi saksi bersama bahwa generasi muda nusantara telah di dominasi oleh budaya bangsa lain. Boleh kita meniru budaya bangsa lain, namun jangan lupakan identitas nusantara anugerah Tuhan semesta alam. Dia telah menciptakan manusia dengan identitas masing-masing, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya saling mengenal, supaya ada interaksi yang menyenangkan dan saling memberi inspirasi. Tidak untuk dominan terhadap identitas (suku, bangsa, organisasi) lain seperti yang terjadi saat ini. Inilah saya kira cita-cita kedepan kita bersama terciptanya masyarakat yang harmonis. masing-masing suku bangsa (baca juga ormas) saling menghargai , saling memberi ruang, saling mengakui eksistensi, saling membantu sehingga tercipta keadilan social bagi seluruh penduduk bumi. Untuk hal ini saya kira perawat nusantara di belanda juga harus mengambil peran.
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|